Lokasi

https://goo.gl/maps/sHQx3zNBn9bhHFuR8

Translate

Tampilkan postingan dengan label perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpustakaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2023

Puisi Perpustakaan Universitas Cenderawasih

 


Di peradaban ilmu dan wawasan berkembang,

Di perpustakaan Universitas Cenderawasih, harta tersimpan.

Halaman-halaman kata yang tiada pernah habis,

Mengajak jiwa merantau dalam dunia tanpa batas.

 

Dalam rak-raknya tersusun ribuan khazanah,

Ilmu pengetahuan mengalir bagai sungai yang jernih.

Mahasiswa mencari, menemukan, dan memahami,

Di bawah cahaya pengetahuan, mereka berjalan bersama.

 

Di setiap lembaran, petualangan dimulai,

Dari filsafat hingga sains, beragam dunia tergali.

Buku-buku mengisahkan mimpi dan realita,

Di sini, batin dan pikiran menjadi merdeka.

 

Suara halus kertas yang berputar saat dijelajah,

Seperti langkah-langkah kaki merambah dunia maya.

Perpustakaan, tempat magis di tengah kampus,

Menjadi saksi semangat belajar yang tak pernah pupus.

 

Dosen-dosen lama dan baru bersatu di sini,

Dalam kata-kata yang tetap hidup sepanjang masa.

Perpustakaan Universitas Cenderawasih, oase pengetahuan,

Tempat di mana jiwa penuntut ilmu bertemu harapan.

 

Dari debat hingga mimpi, semuanya ada di sini,

Di perpustakaan, pintu gerbang menuju pelajaran yang abadi.

Biarlah kata-kata merajut dunia yang cerah,

Perpustakaan Universitas Cenderawasih, sumber inspirasi sejati.



Pustakawan di Era 5.0

Jayapura, 24 Agustus 2023

Halo teman-teman, apa yang bisa dilakukan Pustakawan di era 5.0?





Era 5.0 mengacu pada perkiraan evolusi masyarakat dan teknologi setelah era digital (Era 4.0). Ini adalah konsep yang masih dalam perkembangan dan interpretasinya dapat bervariasi, tetapi umumnya mencakup perpaduan antara manusia dan teknologi, fokus pada keberlanjutan, serta peran kolaboratif dalam mengatasi kompleksitas masalah global. Dalam konteks ini, peran pustakawan juga dapat mengalami transformasi yang menarik. Berikut beberapa hal yang bisa diperbuat pustakawan di era 5.0:

  1. Kurasi Informasi yang Lebih Kompleks: Pustakawan bisa membantu mengelola dan mengkurasi informasi yang semakin kompleks dan tersebar di berbagai platform. Mereka bisa mengembangkan alat dan strategi untuk membantu orang menyaring dan mengolah informasi yang lebih luas dan mendalam.
  2. Literasi Data dan Teknologi: Dalam era di mana data menjadi semakin penting, pustakawan dapat berperan dalam membantu orang memahami literasi data, membaca data, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang ditemukan. Mereka juga bisa membantu mengajarkan literasi teknologi kepada individu yang mungkin masih kesulitan beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru.
  3. Pendidikan Kolaboratif: Pustakawan bisa berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan program yang mendorong kolaborasi antara siswa, mahasiswa, dan anggota masyarakat dalam menyelesaikan masalah kompleks. Mereka bisa menjadi fasilitator dalam menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan pemikiran.
  4. Kurasi Konten Berbasis Etika dan Nilai: Di era di mana isu etika, nilai, dan keberlanjutan semakin penting, pustakawan bisa membantu dalam mengkurasi konten yang relevan dengan nilai-nilai masyarakat dan membantu orang memahami implikasi etika dari informasi yang mereka akses.
  5. Pusat Inovasi Komunitas: Pustakawan bisa menciptakan ruang dan program untuk memfasilitasi kolaborasi, inovasi, dan kreasi dalam komunitas. Mereka dapat menjadi katalisator dalam menghubungkan orang dengan latar belakang dan keahlian yang beragam untuk mengatasi masalah lokal maupun global.
  6. Pengenalan Teknologi Baru: Pustakawan dapat berperan dalam mengenalkan teknologi baru kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang mungkin merasa canggung dengan perkembangan teknologi. Ini bisa termasuk pelatihan penggunaan perangkat lunak, perangkat keras, atau bahkan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan.
  7. Pengarsipan Digital dan Koleksi Virtual: Dalam era 5.0 yang semakin digital, pustakawan dapat berfokus pada pengarsipan digital dan mengembangkan koleksi virtual yang lebih luas, termasuk dalam bentuk multimedia dan realitas virtual.

Dalam intinya, pustakawan di era 5.0 tetap memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengelola informasi kompleks, berkolaborasi secara lintas disiplin, dan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan sosial yang terus berlangsung.

Selasa, 22 Agustus 2023

Diklat Online Promosi Perpustakaan Berbasis Digital

 Rabu, 23 Agustus 2023

Untuk meningkatkan ketrampilan dalam mempromosikan perpustakaan, saya mengikuti Diklat Promosi Perpustakaan berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dari tanggal 14 sampai dengan tanggal 25 Agustus 2023. Mengingat pentingnya promosi saat ini agar Perpustakaan kita dikenal khalayak ramai.


Kegiatan dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh 40 peserta dari berbagai jenis perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia.






Sabtu, 21 Juli 2012

MENUMBUHKAN RASA CINTA PERPUSTAKAAN PADA GENERASI PRAGMATIS : KETIKA IMBALAN BERKATA BANYAK


Penulis: Tanti Kosmiyati Kostaman (Yogyakarta)

Kemajuan jaman telah membuat masyarakat Indonesia sekarang ini menjadi pragmatis, dimana mereka menjadi sangat efisien dan berorientasi pada keuntungan pribadi. Sekarang, individu enggan melakukan sesuatu jika hal itu tidak memberikan keuntungan maksimal baginya.
Dalam konteks tersebut, mengunjungi perpustakaan kini dipandang sebagai hal yang tidak praktis, sehingga perlahan-lahan praktek tersebut ditinggalkan. Karena sekarang ini sudah ada banyak hal yang bisa menggantikan fungsi perpustakaan dalam kehidupan sehari-hari, yang jauh lebih praktis. Misalnya untuk hiburan. Daripada jauh-jauh ke perpustakaan untuk membaca, ada televisi yang siap memberikan hiburan selama 24 jam. Atau jika membutuhkan suatu informasi, daripada jauh-jauh membongkar buku-buku di perpustakaan, ada internet yang bisa memberikan jutaan informasi dengan sekali ketik.
Padahal, perpustakaan masih mengandung segudang manfaat, yang sayang jika disia-siakan. Menonton film dan membaca buku adalah dua hal yang berbeda, meski esensinya sama-sama memberi hiburan. Pun mengenai informasi, internet tidak selalu bisa memberikan apa yang bisa diberikan buku-buku di perpustakaan.
Kita memang tidak bisa menghentikan perubahan masyarakat. Kemunculan media baru tentunya memberikan banyak manfaat. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa membuat masyarakat tetap memelihara nilai-nilai lama, meskipun mereka juga telah melangkah ke dunia yang baru. Menonton televisi dan membaca buku di perpustakaan adalah hal yang bisa sama-sama dilakukan. Dalam hal pencarian informasi pun, internet dan perpustakaan bisa saling melengkapi sehingga sumber dan ragam informasinya bisa menjadi lebih dalam dan kaya.
Kondisi tersebut bukan hal yang tidak mungkin. Asal bisa mencari cara yang tepat, maka kita bisa menumbuhkan kembali kecintaan terhadap perpustakaan pada masyarakat yang telah menjadi semakin pragmatis ini. Yang diperlukan adalah perlakuan yang tepat. Dalam tulisan ini, sistem imbalan diasumsikan sebagai solusi yang tepat dalam usaha tersebut.
I.   Permasalahan
Dalam artikel ini, permasalahan yang diangkat adalah metode seperti apa yang cocok untuk menumbuhkan kembali rasa cinta perpustakaan pada masyarakat yang kini bersifat pragmatis. Metode tersebut harus tepat mengenai sasaran, sehingga tidak sia-sia setelah dilaksanakan.
II.  Tujuan
Tujuan ditulisnya artikel ini adalah sebagai masukan dalam upaya peningkatan kualitas perpustakaan, sehingga tempat tersebut akan kembali menjadi sumber utama masyarakat dalam mencari informasi dan hiburan dalam kehidupan sehari-hari.
III.  Landasan Teori
Teori tindakan ekonomi adalah teori yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk ekonomis yang selalu berusaha mengeluarkan usaha sesedikit mungkin untuk hasil yang maksimal (ruangguruips.blogspot.com).
Sistem imbalan yang memiliki istilah lain kondisioning operan dikemukakan oleh B.F Skinner, seorang psikolog Amerika. Ia berpendapat bahwa manusia akan cenderung mengulangi perilakunya jika mendapat imbalan yang positif, dan tidak akan mengulangi perilaku yang membuatnya mendapatkan respon yang negatif (Santrock, 2005). Teori sederhana ini telah banyak diaplikasikan terhadap berbagai macam perilaku dan sikap masyarakat dewasa ini.
 IV.           Pembahasan
1. Masyarakat yang pragmatis
Sudah menjadi bawaan manusia untuk selalu mengaplikasikan prinsip opportunity cost: mengeluarkan usaha sesedikit mungkin untuk mendapat hasil yang maksimal. Kemajuan teknologi mempermudah usaha tersebut: sekarang, bermunculan aneka media praktis yang membuat manusia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah.
Hal inilah yang membuat perpustakaan sekarang mulai kehilangan tempat. Apa yang bisa diberikan perpustakaan, seperti hiburan dan informasi, bisa diberikan oleh media lain yang lebih mudah diakses dan lebih praktis. Masyarakat yang cenderung memilih media yang lebih menguntungkan, tentunya tidak akan memprioritaskan perpustakaan sebagai pilihan utama mereka.
Tetapi, tidak berarti masyarakat akan seratus persen kehilangan minat terhadap perpustakaan. Jika mengunjungi perpustakaan bisa memberikan sesuatu bagi mereka, sesuatu yang tidak akan didapat dari tempat lain, tentunya mereka akan mau kembali ke perpustakaan.
Yang mengejutkan, jika kita menilik keadaan di luar negri, ternyata kelangsungan hidup perpustakaan masih berjalan dengan lancar. Padahal, masyarakat disana pun tidak kalah pragmatis dengan masyarakat Indonesia. Apa yang membuat kondisinya berbeda? Pengelolaan yang profesional, yang juga mempertimbangkan sifat pragmatis masyarakat tersebut,  serta menyisipkan prinsip imbalan dalam sistem mereka.
2. Perpustakaan dan sistem imbalan
Yang dimaksud dengan imbalan, tidak berarti harus berupa hadiah langsung. Tetapi, imbalan tersebut bisa dalam berbagai macam bentuk. Yang penting adalah, kita bisa membuat pengunjung perpustakaan merasa mendapatkan sesuatu yang ‘lebih’, suatu hadiah yang tidak dia dapat jika berkunjung ke tempat lain. Tentunya, imbalan ini juga mesti disesuaikan dengan karakteristik pengunjung: anak-anak akan tertarik pada imbalan yang berbeda dengan orang dewasa.
Sebagai contoh konkretnya, untuk anak-anak, imbalan yang bisa diberikan dibuat hari-hari khusus dimana petugas perpustakaan akan membacakan buku bagi anak-anak, dan dalam acara tersebut akan diadakan kuis dan pembagian hadiah. Memang nantinya niat anak-anak itu tidak murni untuk membaca, tapi yang penting niat untuk datang ke perpustakaan terbangun dulu. Imbalan lainnya bisa berupa pemberian hadiah bagi pengunjung anak-anak yang telah meminjam sampai sepuluh kali. Inilah yang membuat perpustakaan menjadi berbeda dengan televisi, yang tidak akan memberikan hadiah apapun meskipun mereka menontonnya berkali-kali.
Bagi remaja, bisa diadakan kontes meresensi buku perpustakaan. Ini akan merangsang kreatifitas mereka, dan membuat mereka semakin sering mencari buku-buku bermutu di perpustakaan. Kontes yang dibuat dengan hadiah menarik, pasti akan menarik minat remaja, sehingga mereka mau menghabiskan sebagian waktu bergaulnya di perpustakaan.
Cara lainnya adalah dengan mengubah imej perpustakaan. Entah mengapa ada imej bahwa perpustakaan adalah tempat bagi orang yang kurang gaul, bisanya hanya belajar. Ini membuat banyak remaja enggan menginjakkan kaki di perpustakaan, sesuai dengan prinsip kondisioning operan juga: Jika mereka menginjakkan kaki di perpustakaan, mereka akan mendapat cap ‘kuper’, sebuah hukuman yang tidak menyenangkan.
Maka, kita bisa membuat perpustakaan menjadi sebuah tempat yang keren menurut parameter remaja: Desain yang modern, koleksi buku yang lengkap, ruang baca yang nyaman, mading dan papan informasi yang up to date, bahkan bisa dibuat kafe untuk pengunjung yang merasa haus dan lapar setelah membaca. Itu bisa menghilangkan kesan suram dari perpustakaan, sehingga hilanglah halangan bagi remaja untuk masuk ke dalamnya.
Bagi orang dewasa, bisa dibuat klub membaca yang memungkinkan para pengunjung saling bertukar pikiran tentang buku yang mereka baca. Ini adalah imbalan yang tidak bisa mereka dapat dari tempat lain: Di klub baca perpustakaan, mereka akan bertemu orang-orang dengan minat yang sama, yang membicarakan hal yang sama. Tempat yang tepat untuk mengistirahatkan diri dari penatnya pekerjaan.
Imbalan lain yang bisa diberikan perpustakaan adalah temu penulis. Sekarang ini semakin banyak penulis bermutu muncul dan menjadi idola masyarakat, dari mulai anak kecil hingga orang dewasa. Meskipun telah membaca bukunya, tentu sebagai penggemar, mereka tidak akan melewatkan kesempatan bertemu dengan penulis idolanya di perpustakaan. Ketika perjumpaan terjadi, akan tercipta kesan yang baik tentang perpustakaan: tempat dimana kita bisa berada dalam satu dunia dengan penulis kesukaan. Maka, akan timbul rasa untuk kembali lagi mengunjungi perpustakaan.
Bukan hanya kegiatan yang bisa menjadi imbalan daya tarik bagi masyarakat. Desain ruangan pun bisa membuat pengunjung merasa mendapatkan ‘sesuatu’ dari perpustakaan. Maka, desain perpustakaan mestilah dibuat senyaman mungkin, agar pengunjung mau mengulangi kunjungannya. Jika mendapatkan lingkungan yang tidak nyaman, maka prinsip kondisioning operan juga berlaku: orang akan cenderung untuk meninggalkan perilaku tersebut.
V.    Kesimpulan
Kita masih bisa menumbuhkan kembali rasa cinta perpustakaan pada masyarakat yang pragmatis, asalkan mau menyesuaikan metodenya dengan karakteristik mereka. Pada masyarakat dengan karakteristik seperti itu, maka sistem imbalan bisa menjadi solusi. Dengan sistem tersebut, diharapkan masyarakat akan mau mengunjungi perpustakaan berkali-kali setelah mereka mendapatkan imbalan yang tidak bisa mereka dapat dari tempat lain. Bentuk imbalan tersebut mesti berbeda-beda sesuai dengan usia dan karakteristik pengunjung.
VI.  Saran
Kita mesti bisa menjadi lebih kreatif dalam mencari jenis-jenis imbalan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat. Imbalan yang tidak berubah dan itu-itu saja juga akhirnya akan membuat masyarakat menjadi bosan. Jadi, sistem imbalan tersebut mestilah kreatif dan mengikuti dinamika perubahan masyarakat.
VII.  Referensi
Santrock, J.W. 2005. Psychology. New York: Mc.Graw Hill.
Sja’roni, M. Anshor. 2008. Tindakan, Motif, dan Prinsip Ekonomi. http://ruangguruips.blogspot.com/2008/02/tindakan-ekonomi -berdasarkan-motif-dan.html. Diakses pada 28 September 2009.